Serial
Mahabharata
yang ditayangkan oleh stasiun televisi ANTV ternyata mampu menarik
perhatian banyak pemirsa di seluruh Indonesia. Ya, dibanding pada
tayangan yang sama pada beberapa tahun lalu di TPI (sekarang MNCTV)
serial Mahabharata versi baru ini menjadi daya tarik tersendiri lantaran
para pemainnya yang bisa membuat istri atau pacar anda bakal
mengacuhkan keberadaan anda pada saat menonton serial epik ini. Tokoh
paling terkenal dalam serial ini adalah tokoh lima orang bersaudara dari
Hastinapura yang dikenal sebagai Pandawa Lima. Nah,
siapa saja dan apa saja kiprah dari
lima tokoh Pandawa dari Mahabharata ini, mari kita berkenalan bersama mereka satu per satu.

Pandawa lima
Sebutan Pandawa berasal dari sebuah kata dari bahasa Sansekera yang
berarti “Anak Pandu”. Sebutan tersebut diberikan pada lima orang
bersaudara yang adalah juga anak-anak dari Raja Pandu Dewanata dari
Hastinapura. Disebutkan juga kalau kelima orang Pandawa itu merupakan
titisan dari dewa-dewa tertentu yang memiliki keahliannya masing-masing.
Anak-anak Pandu yang lahir dari dua orang ibu yang berbeda, yaitu
Dewi Kunti yang merupakan ibu dari Yudhistira, Bimasena dan arjuna,
sementara Dewi Madri merupakan ibu dari si kembar Nakula dan Sadewa.
Pada usianya yang masih anak-anak, para putra-putra Pandu ini kerap
berselisih dengan saudara sepupu mereka, Kurawa. Perselisihan tersebut
terjadi akibat hasutan dari paman Kurawa yang bernama Sangkuni yang
dikenal memiliki lidah tajam.
Setelah Pandu dan Dewi Madri meninggal, Hastinapura dipegang oleh
ayah Kurawa yang juga saudara dari Pandu yang bernama Destrarasta. Saat
itulah Duryudana dibantu ke-99 adiknya memiliki keinginan untuk duduk
sebagai raja Hastinapura dan bertekad menyingkirkan para Pandawa dengan
cara apapun.
Sekarang mari kita berkenalan dengan para Pandawa anak Pandu yang merupakan tokoh protagonis dalam kisah epik Mahabharata ini.
1. PUNTADEWA ATAU YUDHISTIRA
Dalam serial Mahabharata yang ditayangkan oleh Star Plus India dan
ditayang ulang oleh ANTV Indonesia, tokoh Yudhistira diperankan oleh
Rohit Bharadwaj. Yudhistira terlahir dengan nama aslinya Puntadewa yang
berarti memiliki derajat keluhuran yang setara dengan para dewa.
Sedangkan sebutan/julukan lain Puntadewa atau Yudhistira adalah
Ajatasaru, Bharata, Dharmawangsa, Kurumukhya, Kurupati, Pandawa, Partha,
Gunatalikrama, dan Samiaji.

Sosok Yudhistira dalam pewayangan
Puntadewa alias Yudhistira ini merupakan anak sulung dari Raja Pandu
dan Dewi Kunti, namun bisa disebut juga merupakan anak kedua dari Kunti
karena anak pertamanya yang bernama Karna diasuh oleh Adirata. Dalam
kisah disebutkan bahwa Yudhistira merupakan titisan Dewa Yama/Dharma
karena ulah Pandu yang salah sasaran sewaktu akan memanah seekor rusa
sehingga menerima kutukan sebelum dia sempat bercinta dengan istrinya.
Pandu dikenal sebagai orang yang adil, jujur, sabar, relijius,
percaya diri dan berani berspekulasi. Dalam perjalanan hidupnya
Yudhistira hampir tidak memiliki musuh, karena memiliki sifat yang
sangat bijaksana dan tidak pernah berdusta. Hal ini pula yang akhirnya
dimanfaatkan oleh Sangkuni ketika merayunya untuk berjudi dadu, yang
menyebabkan kekalahan besar di pihak Pandawa dan merubah kisah
Mahabharata menjadi sebuah cerita yang menegangkan dan penuh konflik.
Keahlian Yudhistira adalah menggunakan tombak, sebagaimana diajarkan
oleh Resi Druna (Dorna), dan dalam budaya Jawa, Yudhistira dikenal
memiliki beberapa pusaka yaitu Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan
Robyong Mustikawarih.
Salah satu kebiasaan buruk dari Yudhistira adalah senang bermain
dadu. Hal tersebut benar-benar telah dimanfaatkan dengan baik oleh
Sangkuni dan Duryudana yang melalui kelicikan dan lidah tajamnya
berhasil mempengaruhi Yudhistira untuk bermain dadu dengannya dan
mempertaruhkan hartanya yang dimulai dari uang emas hingga kerajaan dan
para saudaranya. Bahkan Sangkuni pun berhasil mempengaruhi Yudhistira
untuk mempertaruhkan Drupadi!.

Drupadi dipermalukan oleh Duryudana setelah Yudhistira kalah bermain dadu
Karena kekalahannya dalam bermain dadu, Yudhistira harus kehilangan
Drupadi. Duryudana yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu segera
mengambil tindakan untuk mempermalukan Drupadi yaitu dengan
menelanjanginya di hadapan para tetua, raja, dan penduduk Hastinapura.
Mendengar jeritan dan ratapan Drupadi, ibu para Kurawa yaitu Dewi
Gandari segera masuk dan menyuruh Duryudana untuk menghentikan permainan
dan mengembalikan semua yang telah dirampasnya.
Namun beberapa hari kemudian, Duryudana kembali mengajak Yudhistira
untuk bermain dadu, dan hasilnya Yudhistira mengalami kekalahan yang
membuat dirinya dan saudaranya yang lain dibuang ke dalam hutan selama
12 tahun.
Para Pandawa yang sedang menjalani masa pembuangan di hutan,
dikejutkan oleh ajakan Duryudana yang berniat mengadakan pesta di hutan
tersebut. Niatan Duryudana tersebut tentu saja untuk tujuan menghina
para Pandawa. Namun yang terjadi mereka malah berselisih dengan kaum
Gandharwa pimpinan Citrasena. Akibatnya Duryudana ditangkap oleh
Citrasena.
Yudhistira yang mendegar kabar tersebut segera menyuruh Bima dan
Arjuna untuk menolong Duryudana. Pada awalnya mereka menolak, terlebih
Bima yang memang memiliki dendam kesumat terhadap Duryudana. Namun,
setelah Yudhistra berniat bertarung sendirian, akhirnya dengan terpaksa
Bima dan Arjuna berangkat dan menolong Duryudana. Duryudana yang tadinya
berniat mempermalukan para Pandawa akhirnya malah menjadi malu sendiri.
Peran Yudhistira dalam peperangan Pandawa melawan Kurawa di
Bharatayudha sangat besar. Yudhistira memilik strategi yang cukup ampuh
saat menghadapi Durna. Dia menggunakan keahliannya memainkan tombak pada
waktu bertarung melawan Salya, dan rasa adilnya ketika harus menghadapi
Duryudana. Setelah berakhirnya perang Bharatayudha, Yudhistira
dinobatkan menjadi Maharaja dunia dengan menjadi raja dari Hastinapura
dan Amarta.

Yudhistira dalam perjalanan terakhirnya menuju gunung Himalaya
Daam perjalanannya menuju puncak Himalaya bersama para Pandawa dan
Drupadi Bharatawarsha, Yudhistira meninggal dan ia menjadi orang
terakhir yang meninggal dalam perjalanan menuju Himalaya dan masuk ke
surga. Lagi-lagi di surga ia harus menerima ujian dan berhasil
melewatinya.
2. BHIMASENA ATAU BIMA
Tokoh Pandawa kali ini adalah Bheema atau Bima. Bima merupakan putra
kedua dari Pandu dan Dewi Kunti. Dalam kisah disebutkan bahwa Bima
merupakan titisan dari Batara Bayu atau dewa angin. Bima yang memiliki
tubuh yang gagah dan berotot adalah orang yang paling kuat dari para
Pandawa lainnya. Meski memiliki sifat yang kasar dan cepat marah, namun
Bima memiliki hati yang sangat lembut. Bima dikenal sebagai salah
seorang dari Pandawa yang paling ditakuti oleh musuh.

Bima dalam pewayangan Indonesia
Dalam bahasa sansekerta Bima berarti “mengerikan”, Bima juga memiliki
nama lain yaitu Werkodara, Bayusuta, dan Bhimasena. Senjata Bima adalah
kekuatan dan pusakanya yang berupa Gada Rujakpala. Dalam budaya Jawa,
Bima dikenal memiliki pusaka Kuku Pancakenaka, Alugara, Bargawa dan
Bargawasta.
Kekuatan Bima mulai menonjol ketika dirinya masih berusia anak-anak,
ia menyimpan kekuatan yang sangat besar dibanding anak sebayanya.
Sebagai anak kecil, Bima juga kerap jahil dan suka mengisengi sepupunya
Kurawa. Salah satu orang yang sering menjadi korban kejahilannya adalah
Duryudana, dan karena itu pula Duryudana menjadi sangat benci dengan
Bima.
Kekuatan semakin bertambah ketika ia dan saudaranya yang lain
(Pandawa dan Kurawa) sedang bermain di Sungai Gangga. Para Kurawa
memberikan makanan dan minuman yang beracun pada Bima. Bima yang tidak
mengetahui ulah para Kurawa segera memakan semua makanan tersebut
sehingga pingsan. Oleh Kurawa, ia kemudian diikat dalam sebuah rakit dan
dohanyutkan di Sungai Gangga.

Ditengah
sungai muncul ular-ular yang segera mematuki tubuh Bima, dan ajaibnya
bisa-bisa dari ular tersebut justru menjadi penangkal racun dari makanan
yang telah ia makan tadi. Seketika Bima pun tersadar dan langsung
membunuh ular-ular itu. Salah satu ular yang berhasil kabur melaporkan
kejadian tersebut pada sang raja ular “Antaboga”.
Mendengar laporan tersebut, sang raja ular mengundang Bima dan
memberinya dengan minuman yang jika diminum maka orang yang meminumnya
akan memiliki kekuatan yang setara dengan sepuluh ekor gajah besar, dan
Bima telah meminum hingga tujuh mangkuk!.
Dalam kisah lain disebutkan ketika Bima sampai di kerajaan raksasa
Hidimbawana. Bima bertemu dengan seorang putri raksasa yang bernama
Hidimbi atau Arimbi. Keduanya kemudian saling jatuh cinta. Namun kakak
Arimbi yang bernama Hidimba marah besar mengetahui hal tersebut karena
menganggap raksasa tidak pantas bercinta dengan seorang manusia. Hidimba
pun mengajak Bima untuk bertarung.
Dalam pertarungan Bima berhasil membunuh Hidimba, dan menikahi
Arimbi. Dari hasil percintaanya dengan Arimbi, Bima memiliki seorang
putera yang diberi nama Gatotkaca. Nantinya, selain Gatotkaca Bima juga
memiliki beberapa anak yaitu Antasena, Antareja, Sutasoma, dan Sarwaga.
Dalam perang besar Bharatayuddha, Bima adalah panglima perang dari
Pandawa. Dalam perang tersebut Bima mati-matian bertarung satu lawan
satu dengan Duryudana. Dalam pertarungan yang tidak seimbang tersebut
karena Duryudana ternyata seorang sakti yang tidak bisa terluka, Bima
terus menyerang Duryudana hingga kecapaian.

Pertarungan Bima melawan Duryudana

Pertarungan Bima melawan Duryodana
Dalam kisah lain disebutkan bahwa kesaktian Duryudana didapatkan
ketika dirinya masih bayi, ia dimandikan oleh ibunya dengan air suci,
namun ketika sedang diguyur oleh air suci itu sebuah daun gugur dan
menutupi paha Duryudana, sehingga bagian pahanya tidak terkena air suci.
Krisna segera memanggil Arjuna untuk memberi tahu Bima tentang
kelemahan Duryudana tersebut. Karena tidak memungkinkan untuk
memberitahu Bima dengan kata-kata, Arjuna menunjuk pahanya yang langsung
dimengerti oleh Bima dan segera menghantamkan senjatanya pada bagian
paha Duryudana yang langsung ambruk seketika.
Kehidupan Bima berakhir dalam perjalannnya menuju gunung Himalaya, ia
meninggal secara sempurna dan masuk surga sebagaimana saudaranya yang
lain.
3. ARJUNA
Arjuna yang berarti “Jujur dalam wajah dan pikiran” merupakan titisan
dari Batara Indra. Selain itu ia juga memiliki nama lain yaitu
Kururestha, Parantapa, Wijaya, dan Sawyasachi. Keahliannya adalah
memanah dengan senjata andalannya yaitu Panah Pasopati dan Gendiwa.
Dalam kisah Mahabharata, ketampanan Arjuna membuatnya memiliki beberapa
orang istri yaitu Drupadi, Subadra, Palupi, Manuhara, Supraba, Srikandi,
Sulastri, Larasati, Jimambang, Ratri, Dresanala, Wilutama, Antakawulan,
Juwitaningrat, Maheswara, Retno Kasimpar, Diyah Sarimaya, Gandawati,
dan Citranggada.

Arjuna dalam pewayangan Indonesia
http://simomot.com/2014/07/04/inilah-sosok-dan-kiprah-pandawa-dalam-kisah-mahabharata/